Kayori – Seni Merekam Bencana
KITA TELAH KEHILANGAN LEBIH BANYAK ILMU PENGETAHUAN DARIPADA YANG KITA MILIKI HARI INI.

“Migrasi, perang, dan bencana yang datang berulang membuat masyarakat yang bermukim di lembah Palu menjadikan ingatan sebagai teorema yang berusaha terus diwariskan sebagai pengetahuan bagi generasi yang datang kemudian.”

“Tutura merupakan indigenous knowledge yang sayupnya masih didendangkan masyarakat Kaili. Salah satu bentuk tradisi yang disampaikan melalui rapalan ini adalah Kayori—syair yang diproduksi para leluhur berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan pengamalan ini juga mencakup peristiwa bencana yang pernah terjadi di Teluk Palu.”

Detail

Judul: Kayori – Seni Merekam Bencana
Penulis: Ibe S. Palogai & Lala Bohang
Penerbit: BASABASI
Tebal: 214 hlm.
Tahun: 2021

—-

Teaser: Tutura – Pepatah di Patahan Ingatan
“Migrasi, perang, dan bencana yang datang berulang membuat masyarakat yang bermukim di lembah Palu menjadikan ingatan sebagai teorema yang berusaha terus diwariskan sebagai pengetahuan bagi generasi yang datang kemudian.”

—-

Animasi: Tutura, Pepatah di Ingatan
“Goya-goya gontiro
Toka bonga Loli’o
Palu, Tondo, Mamboro Matoyomo
Kamolue melantomo.”

– Syair Kayori

Goyang-goyang ganti (Banawa)
Yang melihat ke bawah, orang Kabonga dan Lolioge,
Palu, Tondo dan Mamboro sudah tenggelam,
Tersisa Kayumalue yang mengapung.

– Syair Kayori

Pulau yang kita kenal sebagai Sulawesi, terbentuk oleh proses tektonik yang menyatukan tiga lempeng bumi sejak 50 juta tahun yang lalu. Pertemuan ini membentuk ruang tujuh dimensi di Palu; sungai, gunung, hutan, bukit, lembah, danau, dan teluk. Di bawahnya terbenam salah satu patahan paling gelisah, Sesar Palu-Koro.


 

Selfie(sh)
Susah Payah Mati di Malam Hari Susah Payah Hidup di Siang Hari

Hanya ingin scrolling di balik selfie(sh) sampai menjadi kutu.

Details

Pages: 30 pages, Paperback
Published: July 1, 2019
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020631233
Language: Indonesian


Perkara Mengirim Senja
Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, Perkara Mengirim Senja mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsirulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.

Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan.

***

“Menginterpretasikan karya Seno Gumira Ajidarma bukanlah pekerjaan mudah, tapi sah dan patut dicoba. Sungguh menarik menyaksikan interaksi kreativitas antara roh tulisan SGA dan generasi penerusnya. Yang jelas, jika ada penulis yang mampu menggerakkan sekian penulis muda untuk merenungkan ulang dan kemudian melahirkan karya baru atasnya, itulah magnetisme seorang Seno.”

– Dewi “Dee” Lestari, Penulis Supernova

“Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat.”

– Alberthiene Endah, Penulis Mimpi Sejuta Dolar

Details

Pages: 200 pages, Paperback
Published: April 1, 2012
Publisher: Penerbit Serambi
ISBN: 9789790245020
Language: Indonesian

Anthology Books